Mengangkat Hajat Hidup Petani dan Buruh Tani

12771758_801684413270513_7753770348221834649_oDi Garut saat ini sedang terjadi pergolakan, karena pemerintah daerah bersikukuh mengubah kawasan Garut Utara yang tadinya kawasan pertanian dan konservasi menjadi kawasan industri. Sesuatu yang sangat bertolak belakang. Tanah-tanah persawahan yang subur di daerah tersebut ada yang sudah beralih kepemilikan, dan disebut-sebut akan dijadikan pabrik/industri.
.
Salah satu kawan saya berbincang dengan petani yang menjual sawahnya. Persoalan ini memang pada akhirnya adalah persoalan perut. Petani yang menjual sawah tersebut mengatakan bahwa dengan menjual sawahnya, kemudian didirikan pabrik, maka dia dapat bekerja sebagai buruh pabrik, anak istri terjamin kebutuhannya, kesehatannya juga terjamin. Sedangkan jika ia terus menjadi petani, tak ada yang menjamin kebutuhan keluarga, dan terutama kesehatannya jika terjadi sakit. Petani itu lalu balik bertanya, “Kalau saya sakit, atau anak istri saya sakit, siapa yang mau bayarin biaya rumah sakit?”
.
Inilah persoalan pelik petani, dimana hampir tak ada kepedulian pemangku negara ini yang mempedulikannya. Semua baru terbatas normatif, bantuan-bantuan yang ada malah membuat petani semakin tidak mandiri. Padahal, kehidupan petani dapat lebih ditingkatkan dengan cara yang tepat sasaran. BUKAN SEKEDAR MENGHABISKAN ANGGARAN.
.
1. Untuk meningkatkan produksi dan menjaga kesehatan generasi bangsa, tidak ada cara lain selain kembali kepada pertanian alami (lebih dikenal “organik”) yang moderen.
2. Hapus semua subsidi pupuk, alihkan menjadi dana kesehatan petani (BPJS kah? dll). Subsidi pupuk hanya menjadi bancakan pemborosan anggaran negara. Selain itu, pupuk yang disubsidi tak lagi dapat meningkatkan produksi pangan, hanya menambah kerusakan tanah dan lingkungan
3. Apakah dimungkinkan petani juga bisa membeli semacam Reksadana Petani? Sehingga dia juga bisa mendapatkan jaminan hari tua/pensiun
4. Harus ada lembaga penjamin pertanian (asuransi) yang akan mengganti kerugian petani jika gagal panen karena force major dan serangan hama. Di Jepang, petani sangat di hargai oleh negara. Ketika panen mereka ada kegagalan, pemerintah langsung menggantikan kerugiannya, dan menyuruh petani untuk lanjut kembali bercocok tanam.
5. Sistem permodalan, asuransi, dan keuangan lainnya harus bersistem Syariah, Mudharobah, agar terbebas dari riba. Petani jangan dibebankan cicilan pinjaman, tetapi pake konsep bagi hasil.
.
Saya rasa dengan kita tingkatkan produksi pertanian melalui pertanian “organik” moderen, didukung dengan tata kelola niaganya, dari hulu hingga ke hilir, melalui pola niaga “berkeadilan” dan “berkelanjutan” (sustainable farming & fair trade), hajat hidup petani dapat meningkat dengan baik. Mereka bisa punya jaminan kesehatan, jaminan pendidikan, jaminan hari tua, dll.
.
Sudah terbukti dengan pertanian organik moderen produksi meningkat berkali lipat, lalu mengapa masih juga tidak dijadikan sebagai acuan pertanian nasional kita? Apa kita masih mementingkan satu dua industri daripada memikirkan nasib rakyat yang lebih banyak ini?
.
fotoeeptani1-300x300Salam, Kang Eep
Swadaya Petani Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *