“Invincible Power” yang Sengaja Melemahkan Petani Secara Sistemik

13221002_841457212626566_3945462232189515031_nSuatu waktu, saya nyukcruk lembur ke sebuah desa yang cukup terpencil. Ngobrol dengan seorang petani yang umurnya sudah cukup senior. Dia lalu curhat, bahwa satu musim ini dia tidak bertani, padahal tidak sedang musim kemarau. Saya tanya, “Kunaon Mang?” Dia jawab, “Teu aya pupukna, Den.”
.
Yap… itulah sisa-sisa program pertanian yang mengakibatkan tanpa sadar petani menjadi malas, tidak kreatif, tidak mandiri, dan ketergantungan. Ketika pupuk pabrikan tidak ada, dia tidak bisa bertani. PADAHAL, d isebelah rumahnya ada pohon bambu, ada pohon pisang, dan dia pelihara domba.
.
Mengapa di depan mata sudah tampak bahan pupuk alami yang bisa digunakan tapi si Mamang tadi kok tidak bisa bertani? Ya karena selama ini dalam benaknya, bertani itu perlu pupuk pabrikan. Bahkan kalau bisa pupuk gratisan yang dibagikan pemerintah. Yang disubsidi, dll.
.
Ratusan tahun yang lalu, nenek moyang kita bertani tanpa menggunakan pupuk buatan pabrik, tetapi suburnya luar biasa. Lalu mengapa petani sekarang tak bisa bertani karena tak ada pupuk buatan pabrik?
.
Modernisasi pertanian yang kebablasan. Moderenisasi pertanian itu mestinya membuat petani semakin mandiri, semakin sejahtera, bukannya malah menjadi seperti pecandu narkoba yang sakaw, kalau bertani harus pake pupuk pabrikan.
.
Puluhan tahun, percaya diri petani dikikis habis-habisan. Lalu apakah kini pertanian organik pun akan dibuat seperti itu? Dibuat agar petani tak percaya diri mengolah tanamannya menjadi organik dengan kemampuan memproduksi pupuk sendiri? Dibuat pula betapa ribetnya bertani organik itu, dengan segala isu-isunya yang hampir semuanya miring.
.
Sungguh kasihan petani, dan sungguh biadab orang-orang pintar yang terus mendoktrin petani, bahwa bertani itu harus pake pupuk buatan pabrik.
.
Moderenisasi pertanian di bidang pupuk seharusnya mempermudah petani. Biarkan petani punya keahlian membuat pupuk sendiri, kompos sendiri, mengolah kotoran hewan dan limbah panen, agar kembali ke tanah sesuai SUNNATULLAH-nya, agar menjadi petani yang ramah lingkungan, ZEROWASTE. Lalu bantulah dengan menciptakan pupuk-pupuk penyempurna dengan bahan alami yang tidak dapat diproduksi sendiri oleh petani, agar unsur hara yang dibutuhkan tanaman semakin komplit
.
Ketika urusan duit sudah berkelana dalam pikiran manusia, seperti apa kata Mahatma Gandhi, “Bumi dan seisinya ini cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi tidak akan pernah cukup untuk satu orang yang tamak.”
.
Salam, Kang Eep
Swadaya Petani Indonesia
www.swadayapetani.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *