Food Waste

Source: http://borgenproject.org/online-marketplace-reducing-food-waste/

Source: http://borgenproject.org/online-marketplace-reducing-food-waste/

Masalah pangan adalah bukan sekedar ketersediaan pangan yang berkaitan dengan produksi pangan dan daya beli pangan masyarakat. Tetapi juga masalah aksesibilitas pangan yang terkait dengan kebijakan distributi pangan dan kebijakan terhadap INDUSTRI PANGAN.

Salah satu dampak kebijakan terhadap Industri Pangan yang paling kasat mata adalah makanan sisa (food waste). Sepele ya nampaknya? Silahkan lihat link video ini.

Strategi marketing dari INDUSTRI PANGAN yang telah tertanam di benak kita, tanpa kita sadari telah membuat kita menjadi orang-orang yang rakus, memberi yang kita inginkan, bukan yang kita butuhkan. Mendorong kita berlaku tidak adil dalam konteks akses pada pangan.

Maksudnya? Misalnya saja saat kita belanja di supermarket, bagaimana kita memilih sayur? Pasti salah satu ktiterianya adalah bentuknya yang bagus kan? Semua sayuran dalam bentuk idealnya. Pertanyaannya: apakah tanaman sekali tumbuh dalam bentuk ideal? Seragam dalam ukurannya? TIDAK. Buah, sayuran semua melewati proses sortir untuk tampil cantik di mata kita. Bagaimana nasib tanaman yang tidak sempurna? Tidak lolos kriteria: DIBUANG!!! Karena sistem retail pangan yang diamini pemerintah. Siapa yang menanggung resiko biaya dari proses ini? Percaya atau tidak PETANI.

Apa akibatnya jika masalah ini dibiarkan sebagai business as usual oleh pemerintah? Dampak sosial pasti ada: kesenjangan kaya-mikin, kesenjangan pulau jawa dan luar Jawa dalam konteks Indonesia, kesenjangan aksesibilitas pangan, kesenjangan kualitas pangan, kesejahteraan petani, jumlah petani, dsb. Nampaknya semua berasal dari masalah sepele, makanan sisa.

Pernahkah terketuk hati kita untuk berpikir rantai proses pangan hingga tersedia di meja? Saat mengunggah beragam foto makanan di media sosial kita? Saat kita sibuk memesan beragam jenis menu di restaurant?

Tentu saja sebagai konsumen kita adalah raja. Kita berhak membeli apapun yang kita mau, tetapi bukankah Industri Pangan sebagai produsen bertujuan mencari laba sebanyak-banyaknya? Termasuk mempengaruhi kebijakan distribusi pangan yang menguntungkan retail pangan, yang seringkali menegasikan kewajiban pemerintah terhadap distribusi pangan berkeadilan, tidak mudah dan berbiaya tinggi kan?

Saatnya kita menjadi konsumen bijak. Wortel bengkok dg wortel yang tegap lurus, nutrisinya sama lho. Bayam yang daunnya kecil-kecil memang lebih susah disiangi, tapi rasanya sama kan dengan bayam yang daunnya bulat cantik lebar? Untuk konsumsi harian kan tidak masalah. Industri pangan adalah industri terpadu, zero waste. Sisa makanan bisa digunakan untuk pakan ternak kan? Sehingga akan menekan biaya pakan dan meningkatkan akses masyarakat untuk protein hewani. Adil untuk manusianya, adil untuk hewannya.

Bayangkan berapa trilyunan uang yang kita buang dengan alasan kendali mutu dalam retail pangan yang kita kenal saat ini. Kuliner, sebagai salah satu Industri Kreatif yang paling dinamis, menjadi salah satu solusinya. Cheff yang hebat bukan sekedar bisa menghidangkan hidangan standard Michelin, tetapi mampu berkreasi dengan sisa bahan masak kualitas premium untuk hidangan second line nya misalnya, memang harus bergerak dari semua lini untuk mengurus pangan. Karena pangan adalah kehidupan.

arum

Arum Kusumaningtyas
Sekjen Swadaya Petani Indonesia

One Comment

  1. Saya tertarik untuk mengolah limbah pertanian seperti yang anda tulis. Di mana bisa mendapatkan informasi lebih banyak? Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *