Traktor Tidak Membuat Tanah Kembali Subur
Oleh: Eep S. Maqdir, Ketua Umum Swadaya Petani Indonesia

fotoeeptani1-300x300Kita menyambut baik adanya bantuan traktor kepada para petani. Traktor yang merupakan bagian dari mekanisasi pertanian, diharapkan dapat membantu mempermudah petani mengolah sawahnya. Tetapi traktor saja tidak cukup, karena traktor tidak membuat tanah kembali subur, traktor tak dapat dijadikan sarana peningkatan hasil panen.

Penggunaan pupuk formula selama puluhan tahun, disertai penggunaan obat-obatan atau pestisida yang berlebihan, telah membuat tanah menjadi keras, kering, jenuh, dan hilang kesuburannya. Dahulu kala, kaki saya bisa masuk setengah betis saat menginjak lumpur di sawah, sekarang hanya sebatas mata kaki saja. Ini menandakan, tanah semakin keras, cacing-cacing sudah hilang dari tanah, kupu-kupu tak banyak lagi beterbangan di kebun, sudah tak ada lagi keseburan.

Berkurangnya kesuburan tanah, adalah salah satu persolan pelik bagi petani, selain penanganan hama, dan harga jual yang sering merugikan petani. Persoalan kesuburan tanah ini, menyebabkan banyak petani-petani yang merambah hutan, membuka lahan perkebunan baru dengan kondisi tanah yang masih subur. Tidak hanya petani kecil, bahkan banyak pengusaha-pengusaha pertanian yang turut merambah hutan membuka lahan baru. Setelah tidak subur, kemudian berpindah ke lahan lainnya. Maka, terjadilah kerusakan lingkungan.

Leluhur kita, menjaga kuat tradisi bertani yang berakar kepada nilai-nilai kearifan lokal. Cipta, karsa, dan rasa para leluhur kita menjadikan pertanian sebagai salah satu seni budaya. Ciri khas pertaniannya adalah keseimbangan dengan alam. Mereka menguasai tentang pola dan jadwal tanam. Leluhur kita tidak rakus untuk ingin panen berkali-kali dalam setahun. Di jaman mereka, pertaniannya tentu tak mengenal pupuk formula, pestisida dan obat-obatan yang berbahaya tidak saja bagi hama, tetapi bagi manusia. Leluhur kita telah memahami tentang keimbangan ekosistem, sehingga setiap hama, ada penangkalnya tersendiri, baik dengan menggunakan tumbuhan, atau pun secara alami (predator).

Pertanian leluhur kita adalah pertanian organik. Mereka menggunakan pupuk yang berasal dari sekeliling kebun. Dari mulai memanfaatkan buah-buahan, batang pisang, kompos dari gulma, lalu kotoran hewan yang diolah tersendiri. Setiap tanaman yang ditanam memiliki maksud tertentu yang ujung-ujungnya adalah untuk memelihara keseimbangan alam. Mulai dari penanam pohon, serai, pengaturan kemiringan tanah, terasering, menandakan leluhur kita mengerti betul, bahwa bertani adalah mengelola alam.

Leluhur kita telah mengerti pentingnya ketahanan pangan dengan cara mendirikan lumbung-lumbung. Hasil panen bahkan dapat bertahan beberapa tahun dengan teknik penyimpanan tersendiri. Pertanian mereka menjunjung tinggi nilai-nilai spritual. Berdoa dan memohon harap adalah bagian dari setiap kegiatan pertanian. Sebagai rasa syukur atas dimulainya masa tanam atau masa panen, kerapkali diadakan tradisi kesenian. Para leluhur percaya, setiap keriangan dan kegembiraan, akan menghasilkan kebaikan. Adanya sifat gotong royong, membuat pertanian tidak lagi kesulitan tenaga kerja pertanian. Tidak hanya itu, saat panen pun, masih ada rasa untuk saling berbagi hasil pertanian dengan yang lain.

Apa yang kita lihat pertanian saat ini, sudah banyak yang melenceng dari nilai-nilai seni budaya, spiritual, dan religinya pertanian leluhur Nusantara. Para petani berjalan sendiri-sendiri, buruh tani menjadi susah diperoleh. Hama seakan tidak pernah ada habisnya, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Pupuk formula dan pestisida beracun akhirnya menggangu ekosistem keharmosian alam. Petani pun akhirnya kehilangan nilai-nilai spiritual dan religi, bertani menjadi sekedar kegiatan tanpa makna. Maka, hasilnya pun hanya sekedarnya. Petani sudah lupa, alam akan memberikan imbal balik sesuai dengan kesungguhan hati.

Jika kita (juga pemerintah) memang ada niat serius membantu petani, maka cara pertama yang harus dilakukan mengubah mindset petani untuk mau kembali ke pertanian organik. Kembalikan kesuburan tanah dengan teknologi organik yang ramah lingkungan. Teknologi organik warisan leluhur ini, telah kami terapkan di Kebun Laboratorium Serambi Petani Indonesia yang tandus, di Manggahang Baleendah. Terbukti, tanah tersebut kembali menjadi subur, sumur mengeluarkan air, yang sebelumnya tidak pernah terjadi.

Pabrik-pabrik pupuk organik perlu didirikan dan diberi ruang yang lebih luas. Kalau perlu, disubsidi. Biarkan pabrik pupuk formula tetap berdiri, karena pupuk formula pun tetap dapat digunakan bersama dengan teknologi organik modern yang berbasis mikroba, walau dengan porsi yang kecil. Pengendalian hama diatur dengan pestisida nabati yang tidak berbahaya, dan dengan pengaturan ekosistem.

Langkah lainnya adalah bangun dan perbaiki sistem irigasi. Perketat aturan tata ruang dan wilayah. Lahan produktif harus dilindungi oleh undang-undang. Proses hukum siapa saja yang berani mengalihfungsikan lahan sawah atau kebun produktif menjadi perumahan, perkantoran, properti, atau pabrik.

Kemudian, awasi dan atur tataniaga hasil pertanian. Pola dan jadwal tanam harus diatur ketat, agar tidak terjadi kelebihan produksi yang dapat menyebabkan rusaknya harga jual panen. Hasil pertanian tidak boleh sepenuhnya dilepas kepada mekanisme pasar. Harga jual panen, harus dihitung berdasarkan ongkos produksi dan berapa keuntungan buat petani. Sudah banyak kelompok-kelompok tani yang mampu menerapkan pola ini, sehingga petani tidak pernah mengalami kerugian akibat harga yang jatuh. Di lain pihak, konsumen mereka mendapatkan kepastian harga, terhindar dari membeli hasil panen dengan harga yang tiba-tiba membumbung tinggi.

Maka dari itu, ada tiga pilar penting dalam mewujudkan Kemandirian Pangan Indonesia, yaitu Pilar Teknologi Budidaya, Pilar Management & Marketing, dan Pilar Permodalan

Traktor tidak akan pernah bisa membuat tanah kembali subur. Tetapi, memelihara kerbau dan sapi untuk membajak, hasil bajakannya jauh lebih baik dari traktor tangan, selain itu, kotorannya bisa digunakan untuk pupuk organik. Pertanian Indonesia, akan kembali berjaya, jika kita mau menerapkan nilai-nilai kearifan seni budaya bertani yang religius warisan leluhur Nusantara.

2 Comments

  1. Pepen.Mulyana /pendiri LSM "P.K.B.M."

    Saya sangat puas dengan tulisan yg telah mengupas sekelumit gambaran tentang perbandingan antara kehidupan dan budaya serta cara berpikir atau mindset serta langkah2 para petani dimasa lalu dengan masa kini , sehingga terlihat begitu jelas perbedaan hasilnya ( para petani dulu mementingkan faktor keseimbangan alam dan alami , sedangkan para petani saat ini tidak lagi demikian yg terjadi adalah terkesan sepertinya berjalan sesuai dengan keinginan nafsunya sendiri2 dan tidak memikirkan lagi dampak yg akan ditimbulkanya kedepan tidaklah menjadi aturan lagi…….ditambah pula persoalan dg kurangnya pengawasan pihak pemerintah dalam menentukan kebijakan dan atau pembinaan kpd masyarakat petani sudah mulai kurang perhatianya )
    oleh karena itu , saya secara pribadi sangat prihatin dg keadaan sperti ini ……namun secara kelompok atau lembaga kami masih terkendala dg keberadaan kami…., padahal kami sebenarnya punya ide/gagasan serta konsep untuk solusinya ….
    namun kami masih menunggu waktu saja utk segera mewujudkan cita2 ini ….semoga saja dgn dimuatnya pesan ini akan menjadikan cepatnya impian kami terwujud……terimakasih
    Aamiin….!!!

  2. Pepen.Mulyana /pendiri LSM "P.K.B.M."

    maaf terhapus /akibat low bat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *