Dendang India

Baru juga akan bersemi, langsung kena kebijakan tarif juga. Langsung meredup sayup-sayup deh ke depannya. Itu nasib perdagangan Indonesia-India jika para stakeholders kita, baca: Pemerintah & Pelaku Industri, silau dengan uang cepat di depan. Komoditasnya? CPO alias minyak sawit.

Ya, selama beberapa tahun ini kita terbuai dengan pasar CPO India yang mau terima kualitas apa saja. Bahkan hanya dalam bentuk minyak mentah. Crude oil. Panen, olah asal jadi pun jadi duit cepat. Kini Pemerintah India mengubah strategi kebijakan tentang CPO. Kita terlanjur menjadikan CPO sebagai komoditas ekspor andalan ke India. 

Mau kembangkan menjadi olahan lanjutan sawit, dengan fraksinasi, dan teman-temannya? Modal pengusaha terlanjur tergerus untuk ekspansi lahan melulu. Belum lagi dengan persoalan lingkungannya.

India yang diprediksi akan tumbuh 7%-7,4% tahun ini dan proyeksi tahun 2019 hingga 9%. Bahkan target Pemerintah India hingga 10% dengan berbagai reformasi dan restrukturisasi di bidang politik & ekonomi yang dilakukan Modi. Salah satunya? Mengevaluasi kebijakan SMART CITY di negaranya. Modi melakukan rasionalisasi targetnya. It’s about quality, not quantity. It’s about connectivity not just digitalization.

So? Bagaimana langkah kita? Masih mau melihat ini semua as business as usual? Pasar baru tumbuh pun perlu pintu masuk yang tepat. INCREDIBLE INDIA berubah menjadi MAKE IT INDIA. Dan kata “make it” jelas butuh sumber daya alam banyak. Masak kita hanya jadi COUNTRY OF ORIGIN terus? Kapan jadi WONDERFUL INDONESIA.

~ Arum Kusumaningtyas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *