Antara Sepatu, Pangan Organik & Kedaulatan Bangsa

301287_100983956673899_7052315_nAlkisah, suatu saat, sebuah pabrik sepatu di Garut mengutus seorang manajer pemasarannya, si Ujang untuk menjual sepatu di sebuah daerah di Afrika. Ketika sampai di sana, si manajer bingung, karena semua orang di sana tidak memakai sepatu. Maka dia lalu menelepon bos-nya, “Bos, di sini semua orang ga pake sepatu, ga bakalan laku jualan sepatu disini.”

Bos-nya lalu menyuruhnya pulang. Beberapa hari kemudian si Bos kirim manajer pemasaran baru, si Hen Hen ke Afrika tersebut. Ketika sampai di sana, si Hen Hen juga sama kaget, karena di sana semua orang tidak pake sepatu. Lalu si Hen Hen telepon bos-nya, “Booos, gila ini, semua orang disini ga pake sepatu, ini pasar yang luar biasa, karena belum ada saingan. Bos, saya targetkan tahun pertama, saya akan menjual 500 ribu pasang sepatu.”

Sebuah permasalahan yang sama, bisa jadi akan disikapi berbeda oleh orang yang berbeda. Persoalan pangan organik di Indonesia juga dapat dipandang mirip kejadian tadi. Saat ini, penetrasi pangan organik di Indonesia masih sangat kecil, diperkirakan tidak sampai 1% dari konsumsi pangan di seluruh Indonesia.

Kondisi ini dapat dipandang: “Wah, disini orang jarang yang mengkonsumsi pangan organik, ga bakalan laku kalau saya bertani organik di sini,” atau “Wah luar biasa, kita bisa ciptakan pasar yang luar biasa, 250 juta penduduk Indonesia, baru 1% yang konsumsi pangan organik.”

Hari ini saya mendengarkan penjelasan dari pemangku kepentingan pangan di pemerintahan yang agak “skeptis” dengan pangan organik. Dari 75 juta panen padi di Indonesia, pemerintah sama sekali tidak punya target berapa % dari 75 juta produksi gabah tersebut diisi dengan gabah organik? Pengembangan pangan organik cukup diberi alokasi di salah satu sudut kecil, dan dikembangkan jika ada permintaan saja, dalam arti, kalau ada permintaan saja, kalau pasarnya ada saja. Padahal harusnya pasarnya diciptakan, diperbesar, dengan edukasi, sosialiasi, tentang pentingnya pangan sehat, tidak sekedar kenyang.

Semestinya, pertanian organik harus serius dikembangkan pemerintah, karena sejatinya ini adalah kewajiban negara melindungi rakyatnya dari pangan yang menyebabkan terganggunya kesehatan. Pertanian organik tidak sekedar menjadi ceruk kecil yang alakadarnya, sekedar lepas kewajiban, atau pemanis citra; melainkan harus digarap dengan serius, karena ini menyangkut masa depan anak bangsa kita. Pangan non organik, GMO, dll., yang tercemar pestisida, dan bahan kimia berbahaya lainnya sudah terbukti menyebabkan penurunan kualitas SDM, anak-anak autis, penurunan kecerdasan, terhambatnya pertumbuhan fisik, dan persoalan kesehatan lainnya, yang pada akhirnya berimplikasi terhadap ketahanan dan daya saing bangsa.

Bogor, 5 Oktober 2016,
Disela konsinyering penyusunan Panduan Pembiayaan Syariah untuk Pertanian Organik bersama Pokja OJK. Sustainable Finance for Sustainable Farming
People, Planet, Prosperity, Peace, and Partnership.

Salam, Kang Eep
Swadaya Petani Indonesia

One Comment

  1. Terima kasih kang Eep, artikel sangat bagus dan semakin mendorong saya untuk menggarap sektor pangan organik di Indonesia. Saya juga sangat prihatin dengan keadaan negara saat ini, karena kita masih impor barang-barang yang seharusnya bisa diproduksi didalam negeri seperti beras dan gula. Keprihatinan saya bertambah lagi ketika banyaknya seminar yang mengarah ke “cara impor barang murah”, saya sangat heran dengan perilaku saudara kita yang hanya berpikir mencari untung tanpa memikirkan efek jangka panjang perbuatan mereka.
    Saya berharap dengan adanya swadayapetani.org bisa membangun pangan organik nasional, dengan program-programnya yang sesuai dengan yang saya harapkan. Saya beberapa hari ini berfikir untuk menciptakan teknologi pertanian yang terintegrasi dengan internet. Jadi orang indonesia yang tidak pernah bertani dan ingin memulai usaha bertani bisa mendapatkan tutorial dan mentoring dari praktisi pangan organik.
    Jika ada kelas untuk program petani pangan organik saya mau daftar dan menjadi pejuang pangan nasional.
    Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *